<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=2088782634436562457&amp;blogName=Belajar+Mengungkapkan+Kata+Dalam+Tulisan&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Farmeink.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=in&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Farmeink.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Selasa, 11 Agustus 2009

Menyambut Bulan Ramadhan 1430 H

Melanjutkan tulisan tentang “Hidup itu Harus Seimbang”, dalam tulisan ini saya mencoba untuk menguraikan kembali apa yang telah disampaikan oleh para penceramah beberapa waktu yang lalu. Walaupun diadakan di tempat yang berbeda serta dalam waktu yang berlainan, namun tampaknya antara materi ceramah yang pertama dengan ceramah yang kedua saling melengkapi.

Ceramah pertama dilakukan di lingkungan kompleks rumah, penceramah menyampaikan ibadah-ibadah apa saja yang dapat dilakukan di bulan ramadhan. Penceramah ini menyampaikan, ada banyak ibadah yang dapat dilakukan. Memperbanyak shalat wajib secara berjamah baik dilakukan dirumah maupun dimasjid tidak lupa ditambah dengan shalat sunat. Shalat tarawih, memperbanyak tadarus, memperbanyak shodaqoh, memberikan makan kepada orang mau berbuka puasa. Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan melakukan I’tikaf di Masjid. Apabila diberikan kelebihan rizki oleh Alloh SWT tidak ada salahnya melakukan umroh di bulan Ramadhan.

Sedangkan penceramah di tempat di tempat kawan-kawan lama, menyampaikan bahwa di bulan Ramadhan itu pahala-pahala yang diberikan oleh Alloh SWT sangat banyak tidak terhingga. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat memanfaatkan atau mendapatkan pahala-pahala yang disediakan oleh Alloh SWT secara maksimal?

Selanjutnya penceramah menyampaikan, bahwa dia yakin kita sudah lakukan shalat, berpuasa, membayar zakat memberi shodaqoh, berumroh dan sebagainya. Dapat dikatakan sudah melakukan ibadah berdasarkan syariatnya. Namun pertanyaannya adalah apakah hakekatnya sudah dipenuhi?

Maksud hakekat disini adalah, apakah dalam melakukan shalat kita sudah khusyu? ataukah ingin dipuji sebagai orang yang sholeh. Apakah dalam shalat pikiran dan hati tertuju kepada Alloh SWT ?. Atau mungkin pikiran masih memikirkan pekerjaan di kantor. Pada saat berpuasa, apakah masih bergunjing menceritakan keburukan orang lain?. Melihat hal-hal yang maksiat. Apakah pada saat memberikan shodaqoh sebetulnya ingin mendapat pujian sebagai orang yang dermawan?.

Apabila masih melakukan hal-hal seperti yang dicontohkan diatas, maka hal ini dapat mengurangi nilai ibadah, serta tentunya akan mengurangi pahala yang akan diperoleh. Pada ahirnya apa yang dilakukan hanya sia-sia belaka, yang diperoleh adalah capainya saja.

Dengan seabreg contoh yang dikemukan penceramah yang terahir ini, menjadikan yang hadir terhenyak, termenung, berpikir serta bertanya dalam hati. Pertanyaannya apakah ibadah-ibadah yang selama ini dilaksanakan pada bulan Ramadhan telah dilakukan dengan khusyu sehingga memperoleh ridho Alloh SWT.

Pada ahirnya apa yang disampaikan penceramah ini dibawa pulang dengan sejuta pertanyaan penuh harap. Semoga ibadah Ramadhan yang dilakukan tahun-tahun yang lalu mendapat ridho dari Alloh SWT, serta untuk Ramadhan tahun ini lebih meningkat dibanding tahun-tahun yang lalu.


Baca lanjutannya....

Jumat, 07 Agustus 2009

Hidup Itu Harus Seimbang

Menjelang bulan Ramdhan tahun ini, sudah 2 kali menghadiri arisan yang diadakan oleh 2 kelompok yang berbeda. Pertama kelompok di lingkungan rumah dan kelompok teman-teman lama. Yang menarik dari kedua pertemuan tersebut sebetulnya adalah diselipkannya acara ceramah agama atau pengajian yang sebelumnya tidak pernah ada. Tema utamanya seputar menyambut bulan suci Ramadhan.

Adanya tambahan acara pengajian, merupakan sesuatu yang menarik dan patut untuk diapresiasi. Ada semacam kesadaran bahwa hidup ini perlu pembekalan dengan hal-hal yang bersifat rohaniah. Hal ini diperlukan untuk menjaga keseimbangan jiwa, terutama setelah hampir 11 bulan hidup mengejar materi. Jadi harus ada balance antara kebutuhan materi dan rohani.

Teman-teman di ke 2 kelompok tersebut menyatakan bahwa umur terus bertambah, semakin tua perlu ada bekal hidup untuk di ahirat kelak. Diumur yg merambat tua apalagi yang harus dikejar, kira2 seperti itu ungkapan teman-teman. Memang diusia senja perlu suatu tambahan “gizi” yang berbeda dengan “gizi” yang hampir 11 bulan dicari. Dalam 11 bulan yang dicari, adalah “gizi” berupa materi, kedudukan maupun kehormatan.

Sekarang sudah saatnya mengisi kehidupan dengan “gizi” yang lain yaitu rohani. Mungkin sudah merasa ada kekosongan jiwa, merasa dahaga, gersang. Kekosongan ini nampaknya hanya dapat disi atau dipenuhi oleh “gizi” yang bernama rohani dengan mengikuti ceramah keagamaan.

Mungkin kita sering tersadar, usia merambat ke kepala 5, materi sudah lengkap, anak istri sehat serta sudah mendekati cita-cita hidup yang di idamkan. Namun jiwa kita tetap gelisah. Pada awalnya tidak tahu apa yang digelisahkan, namun kian hari kian nyata ada pertanyaan yang mengguncang jiwa. Pertanyaan itu terus bermunculan seiring dengan bertambahnya usia. Pada suatu ketika baru menyadari bahwa hidup pasti berakhir. Pertanyaannya kapan berakhirnya hidup ini. Hendak kemana setelah itu. Apakah kita mengenal kehidupan setelah kematian. Apakah indah atau malah mengerikan. Apakah kita siap menghadapi hal itu?

Jiwa terguncang menyadari tidak dapat menjawab pertanyan-pertanyaan itu, kita pun tidak dapat membayang kehidupan yang akan datang itu. Bagaimana bisa membayangkan tatkala kita hidup saja kita tidak dapat membayangkan atau memprediksikan besok akan ada kejadian apa atau bagimana masa depan kita. Apalagi ini membayang kehidupan setelah mati, didunia yang lain dialam lain. Dalam firmannya Allah SWT bersabda, setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Tapi kapan kematian itu akan datang?. Masalahnya adalah kita tidak tahu kapan ajal akan menghampiri. Hidup, mati, jodoh adalah rahasia Illahi.

Contohnya, tiba-tiba kita dikagetkan dengan berita, wafatnya Mbah Surip. Ada yang menyatakan tidak percaya, karena kemarin baru ada di Televisi. Ada pula yang mengatakan kasihan wafat padahal baru saja tenar serta belum menikmati jerih payahnya. Diberitakan WS Rendra yang sedang sakit menginjinkan Mbah Surip di makamkan di kompleks bengkel teater. Tidak lama kemudian berita lain menyusul, WS Rendra telah wafat pula. Kematian adalah suatu yang rahasia, tidak tahu kapan ajal akan menjemput, apakah yang sakit parah terlebih dahulu atau malah yang masih sehat. ? Hanya yang Khalik yang maha mengetahui.

Pertanyaannya adalah apa yang sudah dipersiapkan untuk menyongsong kematian itu? Apakah sudah siap menghadapi itu? Apa saja yang dipersiapkan? jawaban atas pertanyaan yang menggelisahkan ini hanya dapat di jawab oleh ajaran agama. Diumur yg semakin tua adalah bijaksana jika dengan sadar memperdalam agama, memperbanyak amal, serta menambah keimanan. Yang dicari adalah khusnul khotimah tentunya, semoga Alloh SWT mengabulkan keinginan itu. Amiiin.


Baca lanjutannya....

Senin, 03 Agustus 2009

Mesjid Niujie

Kali ini kami coba ketengahkan episode perjalanan exotic kami ke Beijing. Tujuan kami kali ini adalah ke Masjid Niujie. Negara Cina yang berpaham komunis, ternyata juga memiliki komunitas muslim. Konon menurut kabar, mesjid Niujie telah berumur lebih dari 1000 tahun. Keberadaan Mesjid ini terletak di jantung kota Beijing. Persisnya berada di suatu kompleks Mesjid dengan luas 6.000 m2. Dari suasananya kompleks mesjid ini memiliki pemandangan yang cukup megah dan khidmat. Dalam kompleks mesjid, selain mesjid Niujie, terdapat pula madrasah, rumah imam, ruang guru, dan menara adzan yang unik.

Menurut brosur yang kami baca, Mesjid ini di bangun pada tahun 999 pada jaman Kaisar Tonghe dari Dinasty Liao. Karena usianya yang cukup tua, Masjid Niujie telah mengalami beberapa kali renofasi mulai dari dinasti Yuan, Ming hingga Qing. Jika dicermati, mesjid ini mengadopsi kombinasi arsitektur Arab dan Cina. Selain pernah direnofasi, pernah penggunaan kata “mesjid” dirubah menjadi kata “Libaisi” hal ini terjadi pada jaman Kaisar Chenghua dari dinasti Ming. Mesjid Nuijie ternyata juga memilik koleksi Al-Qur’an tulisan tangan yang telah berumur lebih kurang 300 tahun, serta papan dekrit dari Kekaisaran Kangxi (1694).

Pertama kali memasuki area kompleks mesjid, kami harus melewati pos penjagaan. Pos itu dijaga oleh seorang lelaki tua, yang kira-kira telah berumur lebih dari 60 tahun. Setelah guide menjelaskan maksud kedatangan kami kesana barulah kami dipersilahkan masuk. Sebagai seorang muslim kunjungan kami ke masjid Nuijie disamping untuk melakukan ibadah juga bersilaturahmi serta menikmati keindahannya. Namun dikarenakan ketika itu belum masuk waktu sholat, jadi kami hanya menikmati keindahan arsitekturnya saja. Setiap turis yang hendak berkeliling kompleks mesjid, diharuskan membayar 10 Yuan per orang.

Pada awalnya kami terkejut ketika dikenai karcis masuk, dalam hati untuk apa biaya itu dikeluarkan ? namun karena pada tanggal 13 Januari 1988 Pemerintah Cina menetapkan sebagai suatu “National historic unit” semacam cagar budaya nasional, maka selain sebagai tempat ibadah juga sebagai peninggalan budaya, sehingga kemudian untuk masuknya dikenai ticket masuk.

Kedatangan kami ke Cina adalah awal bulan Juli yang di Cina masuk di musim panas, sehingga jadwal shalat untuk musim panas adalah, shalat Subuh : 04.00 ; Dzuhur : 13.30 ; Ashar : 18.40 ; Maghrib: 19.50; dan Isya :21.25. Tampaknya waktu shalat musim panas akan berbeda jauh dengan waktu shalat di luar musim panas. Dapat dibayangkan jika bulan Ramadhan masih dalam musim panas maka puasa akan cukup panjang waktunya, karena waktu buka sekitar jam 20.00.

Jika setiap turis muslim yang berkunjung ke Beijing ada baiknya tak lupa mengunjungi Mesjid Niujie terlebih dahulu. Disamping untuk melihat keunikan mesjid, yang utama adalah mengetahui secara pasti waktu shalat. Karena perbedaan waktu shalat di Beijing setiap musimnya berbeda cukup mencolok.


Baca lanjutannya....

Rabu, 22 Juli 2009

Pembatasan Kelahiran Dalam Catatan Perjalanan

Selama mengujungi obyek wisata di Cina saya selalu menyempatkan untuk berbincang dengan pemandu wisata yg kebetulan dapat berbahasa Indonesia. Walau disela perbincangan saya harus sedikit konsentrasi karena pengucapannya kadang tidak jelas. Menurut penuturannya, ia berlajar bahasa Indonesia lebih kurang 2 (dua) tahun di Beijing. Salah satu topik yang menarik dalam perbincangan kami adalah mengenai “pembatasan kelahiran”. Seperti diketahui Cina saat ini berpenduduk sekiatar 1,3 milyard, suatu jumlah yang fantastis. Untuk itu Pemerintah Cina merasa perlu untuk melakukan program pembatasan kelahiran bagi setiap pasangan suami istri.

Pemandu wisata kami mencontohkan bahwa dia mempunyai anak 2 (dua) orang. Ketika anak yang kedua lahir dan kemudian kelahiran itu dicatatkan ke Pemerintah, dia mendapat denda sebesar 30.000 yuan atau jika di kurs ke mata uang Indonesia kurang lebih sebesar Rp.40.000.000,- (empat puluh juta rupiah). Ketika saya tanyakan kenapa nekat ingin mempunyai anak yang kedua. Pemandu wisata kami menjawab anak pertamanya adalah perempuan, dia ingin mempunyai anak laki2, walaupun keinginan tersebut terkabul namun harganya sangat mahal.

Lain lagi dengan cerita seorang kawan, ia yang kelahiran Indonesia menikah dengan penduduk Beijing, mempunyai kawan seorang wanita Indonesia yg juga kawin dengan penduduk Beijing. Kawannya itu mempunyai anak yang kedua. Ketika tahu bahwa denda yang akan dikenakan kepadanya sebesar 200.000 yuan, kontan menunda pencatatan anak keduanya tersebut, dia kaget begitu mahal dendanya.

Pertanyaannya adalah kenapa ada perbedaan yang cukup signifikan seputar masalah denda ?. Ternyata karena wanita Surabaya tersebut penduduk Beijing sedangkan Pemandu Wisata kami bukan penduduk Beijing. Rupanya pengenaan denda tersebut bervariasi di tiap daerahnya, sudah menjadi hukum yang berlaku umum barangkali jika kehidupan di kota-kota besar mempunyai ongkos hidup yang lebih besar di banding di pedesaan atau daerah-daerah pinggiran.

Lebih jauh diceritakan bahwa pembatasan kelahiran penerapannya jauh lebih ketat di kota-kota besar seperti Beijing di banding di daerah pinggiran atau pedesaan.. Di pedesaan dimungkinkan mempunyai anak lebih dari 1 dengan denda yang longgar dengan tujuan untuk membantu ekonomi keluarga . Begitu pula jika pasaangan suami istri dari pasangan suku minoritas dimungkinkan mempunyai anak ke 2 tanpa dikenakan denda oleh Pemerintah, demikian obrolan ringan selama perjalanan ini.

Lain di Cina lain pula di Singapura. Konon di beritakan Pemerintah Singapura mendorong penduduk usia nikah untuk segera menikah dan mempunyai keturunan. Jika mempunyai keturunan maka Pemerintah Singapura akan memberikan tunjangan atau subsidi bagi pasangan tersebut. Jadi, begitu mempunyai anak maka orang tuanya dibayar oleh Pemerintah Singapura.

Kebijakan ini dijalankan, konon kabarnya banyak orang Singapura usia nikah tidak mau menikah karena apabila menikah akan repot ngurus anak, tidak ada kebebasan, berkomitmen sepanjang hidup dengan pasangan dsb. Dapat dibayangkan jika suatu negara tanpa generasi penerus yang handal apa jadinya kelangsungan suatu negara itu? Lain ladang lain belelalang. Lain lubuk lain ikannya.


Baca lanjutannya....

Kamis, 16 Juli 2009

Wabah H1N1 Dalam Catatan Perjalanan

Liburan bersama keluarga merupakan saat yang tepat untuk berkumpul sekaligus untuk refressing. Pada liburan sekolah pertengahan tahun ini kami telah merencanakan untuk melewatinya ke kawasan Cina. Destinasinya adalah Hongkong dan Beijing. Konon menurut kabar, Cina menawarkan panorama yang menarik. Maklum saja Cina merupakan negara yang memiliki empat musim, sehingga pesona alamnya sangat excited untuk dikunjungi.

Sebetulnya perjalanan ke negeri tirai bambu disaat wabah virus influenza A atau lebih dikenal H1N1 melanda adalah perjalan yang kurang tepat. Tetapi apa daya ticket telah dipesan jauh hari sebelum influenza A merebak ke berbagai negara serta marak diberitakan di media massa. Kami mencoba sharing tentang upaya Pemerintah Cina dalam mengantisipasi penyebaran virus H1N1.

Upaya ketat yang dilakukan pemerintah Cina tentunya sangat beralasan. Pasalnya, saat ini dunia tengah digemparkan dengan mewabahnya virus H1N1. Menurut data yang dilansir media, virus itu sebetulnya berasal dari Meksiko. Virus ini terbilang sangat ganas, biasanya apabila terjangkit virus ini akan menyebabkan demam tinggi bahkan hingga pada kematian. Saking ganas akibat yang ditimbulkan dari virus ini pemerintah Cina tidak mau kecolongan akan jatuhnya banyak korban. Dari endemi virus flu burung saja yang sempat menggegerkan beberapa waktu lalu, tercatat Cina merupakan negara yang menelan banyak korban. Jadi untuk mengantisipasi pandemi ini wajar saja jika pemerintahan Hu Jin Tao menerapkan kebijakan yang super ketat terhadap para pendatang.

Ketika terbang dari Jakarta menuju Hongkong menggunakan pesawat SQ dengan transit di Singapura, pemeriksaan kesehatan belum begitu terasa. Namun sesampai di Hongkong pemeriksaan kesehatan mulai kami rasakan. Pemeriksaan mulai dilakukan ketika berada di bandara Hongkong dengan menggunakan alat sensor pendeteksi suhu tubuh. Setiap penumpang yang mengunjungi Hongkong diwajibkan untuk mengisi formulir kesehatan yang berisi beberapa pertanyaan seputar masalah kesehatan dan daerah yang pernah dikunjungi, semacam riwayat perjalanan lah. Data itu diperlukan agar apabila ada seseorang yang terindikasi H1N1 dapat segera dilakukan penelusuran secepatnya. Oleh sebab itu pengisian data itu wajib hukumnya.

Pemeriksaan extra ketat mulai kami rasakan ketika akan berangkat menuju Beijing. Untuk sampai ke sana kami menggunakan pesawat Southern Airlines. Pemeriksaan mulai dilakukan dari Bandara Hongkong ketika akan memasuki pintu pesawat. Dengan peralatan canggih, suhu tubuh para penumpang diperiksa satu persatu. Setiap penumpang tak luput dari pemeriksaan kesehatan. Ketika mendarat di Beijing, penumpang dan crew pesawat terbang diperiksa kembali suhu tubuhnya diatas pesawat, setelah selesai diperiksa baru penumpang di ijinkan turun dari pesawat. Setelah itu formulir kesehatan di periksa oleh petugas, terahir sambil menyerahkan formulir kesehatan, penumpang di pantau suhu tubuhnya melalui layar monitor ditempat penumpang menyerahkan formulir kesehatan.

Pemantauan kesehatan ternyata tidak hanya dilakukan di pintu masuk negara Cina, ternyata di Hotel dimana kami menginap, pemantauan terus dilakukan dengan memasang sensor pendeteksi suhu tubu yang dipasang di pintu keluar lobby hotel. Belum lagi pengunjung diberikan selabaran berupa “Health Advice” yang berisi anjuran untuk mewaspadai menyebar virus H1N1 serta saran apabila kita merasa terserang penyakit untuk melapor ke petugas hotel atau langsung kontak ke petugas kesehatan.

Berlapis-lapisnya pemeriksaan kesehatan hingga sampai di bandara Beijing membuatku sedikit bosan. Namun karena semuanya dilakukan dengan cepat sehingga perasaan itu sirna dan nampaknya penumpang lainnya menyadari bahwa pemeriksaan itu penting untuk dilakukan untuk kesehatan bersama.

Ternyata pemerintah Cina yang memiliki penduduk terbesar di dunia sangat peduli pada kesehatan warganya. Karena apabila sudah menjadi pandemi bukan saja dapat menaikkan anggaran kesehatan, tetapi dalam upaya penanggulannya pun akan menghabiskan kost yang tidak sedikit.


Baca lanjutannya....

Senin, 19 Januari 2009

Buat Apa Membuat Blog?

Seringkali timbul pertanyaan buat apa membuat blog jika tidak rajin meng update atau mengisi tulisan baru dengan ide-ide yang ada dalam pikiran kita. Namun apa daya terkadang pikiran buntu sehingga tidak memunculkan tulisan.

Kemudian terpikir pula apa hanya berdasarkan ide belaka tulisan itu muncul ?, Bisa saja kita bulatkan tekad mencoba menulis apa saja yang terjadi disekitar kita, atau yang sedang hangat diperbincangkan. Apabila kita membaca blog kita 5 tahun kemudian, kita dapat bayangkan kembali kejadian atau peristiwa yang terjadi pada waktu tulisan itu dibuat. Jadi mungkin bentuk tulisan semacam laporan pandangan mata saja.

Jika ada ide bagus kenapa tidak untuk membuat tulisan berupa analisa atas suatu kejadian-peristiwa kemudian kita memberikan opini terhadap hal tersebut. Namun setelah membaca kembali arsip dalam blog, ternyata tulisan-tulisan saya sebenarnya hanya laporan pandangan mata yang belum memunculkan tulisan dari suatu ide berupa analisa dan opini. Tampaknya punya blog sengaja untuk narsis ya ? atau sebagai media untuk mengekpresikan diri terhadap suatu kejadian-peristiwa. Kemudian sempat terpikir lagi memangnya siapa seh saya ini? Sudah berani mengomentari atau berpendapat terhadap kejadian-peristiwa. Apa tulisan saya sudah bermutu?.

Saya jadi teringat nasehat Bp.M.Amin Rais, yang menganjurkan kepada generasi muda Indonesia untuk banyak membaca buku dan harus mencoba belajar menulis. Tak dapat dipungkiri budaya membaca erat kaitannya dengan kemajuan suatu bangsa. Sebagai contoh, kita mungkin tahu masyarakat Jepang gemar sekali membaca. Hampir disemua tempat dapat kita temui orang sedang membaca. Bahkan di dalam kereta api cepat pun mereka menyempatkan diri untuk membaca. Sebagai bangsa perlu kiranya kita mencontoh bangsa Jepang dalam budaya membaca. Sehingga kita tidak tertinggal dengan bangsa lain.

Maraknya pertumbuhan blog saat ini, sungguh sangat menggembirakan. Dengan adanya media blog banyak penulis-penulis handal dalam bidangnya menjadi terekpose. Selama ini tulisan mereka tidak terpublikasi, mungkin disebabkan terbatasnya media yang akan mempublikasikan sehingga masyarakat tidak mengenalnya.

Pada saat ini, saya sedang mengikuti anjuran yang ke 2 dari Bp.M.Amin Rais, yakni berusaha untuk belajar menulis. Bukankah motto blog saya adalah “belajar mengungkapkan kata dalam tulisan” ?


Baca lanjutannya....

Sabtu, 10 Januari 2009

Renungan Awal Tahun

Tiga hari setelah tahun 2008 berlalu, saya sempat berbincang dengan Rustian, salah seorang sohib semasa kuliah di Unpad dulu. Kala itu perbincangan dilakukan di sebuah Resto di Bandung. Kebetulan diawal pergantian tahun, kami sekeluarga menyempatkan berlibur di sana. Dari perjumpaan itu, berbagai macam hal kami bicarakan. Mulai dari yang remeh-temeh hingga yang menjurus serius. Maklum saja sudah lama kami tidak saling jumpa. Satu hal yang menarik dari obrolan santai kami yakni masalah usia. Teman saya berujar memasuki tahun 2009 ini mayoritas teman satu angkatan kita akan berusia 50 tahun lantas apa program bisnis kita kedepan, apakah kondisi kita tetap seperti ini atau harus ada peningkatan ? Sementara kebutuhan hidup tetap masih ada. Selain itu bukankah ada ungkapan life begin at 40? .

Saya jadi berpikir perkataan teman saya pada kalimat terakhir itu. Memang dalam faham budaya Barat ada ungkapan yang mengatakan bahwa life begin at 40, tapi setelah sejenak merenung saya langsung tersentak bukankah kami bukan lagi berusia 40 tetapi diambang 50 tahun ?

Pertanyaan yang menggoda adalah sampai berapa lama konsep life begin at 40 kita jalani? Dalam urusan apa saja? apakah semata-mata mengejar urusan duniawi saja seperti mengejar karir, memenuhi kehidupan ekonomi, mencari status sosial dan sebagainya. Atau malah harus direvitalisasi dengan tidak lupa menyiapkan bekal akherat?

Saya jadi teringat ucapan seorang ustad yang mengatakan dalam agama Islam ada ajaran life begin at 40, hal ini dapat dilihat pada surat Al—Ahqaf ayat 15-16, yang berbunyi “…….,Hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun, dia berdo’a, “ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan ibu-bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai; berikanlah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak-cucuku. Sesungguhnya, aku bertaubat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri "

Jika kita amati dari kutipan surat tersebut dapat diambil beberapa point yaitu :

1.Bersyukur

2.Beramal shalih

3.Mendidik anak-cucu menjadi shaleh

4.Bertaubat dan berserah diri

Baik dalam budaya Barat maupun ajaran agama islam ternyata usia 40 tahun adalah fase usia yang sangat penting dalam kehidupan manusia, namun berbeda dalam tindakan yang dilakukannya. Dalam budaya Barat sifat keduniawian seperti mengejar karir, harta, status sosial dan sebagainya adalah tujuannya, sedangkan dalam ajaran agama Islam, kita diingatkan untuk selalu mengingat sang Maha Pencipta-Alloh SWT dan mulai berubah dalam kehidupannya menjadi lebih religius.

Kembali ke topik awal, di usia 50 tahun ini program apa yang telah kita gariskan atau rencanakan dalam mengisi sisa kehidupan ini?


Baca lanjutannya....